Dapatkan promo member baru Pengeluaran SDY 2020 – 2021.

Jakarta, Selular. ID – Kabar merger Tri Indonesia dan Indosat Ooredoo memang dinilai menjelma angin segar bagi industri telekomunikasi tanah air, yang sudah sekian tahun dihuni banyak pemain.

Tak dipungkiri banyaknya pemeran, membuat arus persaingan kian menajam terlebih di era pandemi covid-19 dan juga gap antar operator telekomunikasi kini juga cukup berpegang, baik itu dengan Telkomsel maupun operator lainya.

Kristiono, ketua umum Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL) menyambut positif rencana penyatuan terebut, karena dinilai akan menyehatkan pelaku industri.

Membaca juga:   Merger Tri & Indosat, Akan Saling Melengkapi Jangkauan Jaringan    

“Saya kira hal yang cakap, kalau terjadi konsolidasi ini akan memperkuat struktur industri dan menyehatkan pelaku industri itu sendiri. Jadi pembangunan infrastruktur kedepan akan berlaku lebih baik lagi, ” katanya kepada Selular. ID , Rabu (23/11).

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sebelumnya terus mendorong agar operator untuk terus konsolidasi, karena jumlah operator terlalu banyak, dan perlu dikerucutkan hingga 3 atau 4 operator. “Ini karena sumber gaya frekuensi terbatas, dan biyaya investasi untuk membangun jaringan di segenap Indonesia itu mahal, dimana rata-rata pengeluaran modal (Capex) operator 28 pct dari pendapatanya, ” sambungnya.

Sebelum informasi merger ini, 3 Indonesia & Smartfren sebelumnya juga telah menetapkan untuk berkonsolidasi tahun lalu, tetapi gagal menuju kesepakatan. Dan tak menutup kemungkinan juga dialami oleh Tri Indonesia dan Indosat Ooredoo, karena dilaporkan Bloomberg , pengumuman merger akan lekas dilakukan pekan ini. Namun, keyakinan struktur perjanjian belum selesai, tatkala negosiasi masih bisa ditunda ataupun bahkan batal.

Menyuarakan juga:   Fitch: Pengembalian Skala Jadi Hambatan Utama Merger Operator

Konsolidasi memang telah lama dinantikan operator, namun Heru Sutadi, Direktur Eksekutif ICT Institutemenyampaikan masih banyak penghambat hinggga menghadirkan keraguan sebelumnya pasca merger serta akusisi itu terjadi, karena petunjuk soal frekuensi, penomoran dan adopsi teknologi baru masih belum terang sebelumnya.

“Dan nampaknya UU No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja memberikan sinyal lampu hijau, serta mengakomodasi pertanyaan-pertanyaan operator telekomunikasi bila merger itu dilakukan. Meski, tetap saja regulasi masih menunggu hasil akhir Rencana Peraturan Pemerintah Pelaksanaan (RPPP) UU Cipta Kerja Sektor Postelsiar-nya, ” kata pengamat, yang juga mantan Komisioner Badan Regulasi Telekomunikasi Nusantara (BRTI) itu.

Terpaut kabar merger Tri Indonesia & Indosat Ooredoo di tanah cairan, melalui kesepakatan Hutchison Holdings Ltd asal Hong Kong bersama Ooredoo asal Qatar, yang kabarnya semakin mendekati kesepakatan untuk membangun bisnis telekomunikasi bersama di negara-negara potensial di wilayah Asia Tenggara, sedang belum jelas terlihat.

Baca juga:   Pemerintah Terlantas Operator Untuk Terus Konsolidasi

“Nilai merger akan tergantung siapa yang diambil, atau model konsolidasi. Membeli 100 persen saham Indosat Ooredoo tentu mau berbeda dengan jika Indosat Ooredoo membeli 100 persen saham 3 Indonesia. Atau, bisa saja keduanya bergabung dan hadirkan perusahaan anyar, atau menggunakan nama salah utama operator, kepemilikannya berdua dengan persentase tertentu. Sampai sekarang masih belum jelas, kita tunggu saja apakah pendekatan akan berlanjut atau serupa apa. Sebab biasanya prosesnya serupa akan panjang, ” kata Heru.

Yang cukup mengelitik, apakah Telkomsel dapat dikalahkan, melalaikan Merger dua operator tersebut? Heru menegaskan kalau hanya merger Tri Indonesia dan Indosat Ooredoo Tri, Telkomsel masih kuat. Telkomsel cuma bisa disaingi jika Indosat Ooredoo, Tri, XL Axiata dan Smartfren bergabung.

Sekedar data, Hutchison Asia Telecommunications yang mematuhi bisnis telko di Indonesia, Vietnam dan Sri Lanka memiliki sekitar 48, 8 juta pelanggan aktif. Pasar di Indonesia berkontribusi kira-kira HK$ 3, 95 miliar (US$ 510 juta) atau sekitar 87% pendapatan Hutch di Asia dengan total.

Baca serupa:   Catatan Akhir 2020: Menduduki Langkah Tegas Pemerintah Terhadap Operator BWA Tersisa

Sementara saham Indosat (ISAT) yang terekam di bursa saham Indonesia sudah meningkat sekitar 90% sepanjang tahun ini. Itu membuat valuasi pasar ISAT sekitar US$ 2, 2 miliar. Bisnis ISAT di Indonesia mampu memberi kontribusi sekitar 23% dari total pendapatan Ooredoo sebelum pajak, bunga, depresiasi dan amortisasi pada 2019.

Dikutip dari Info Memo Laporan Keuangan Telkom untuk kuartal III-2020, atasan pasar seluler nasional ini sepanjang sembilan bulan pertama 2020 mengambil pendapatan sebesar Rp65, 134 triliun. Pendapatan Telkomsel berasal dari usaha legacy (suara dan SMS) sebesar 17, 47 triliun, sementara sumbangan dari digital business mencapai 73, 2% dari total pendapatan Telkomsel selama sembilan bulan 2020.

Per September 2020, Telkomsel memiliki 170, 1 juta konsumen. Sekitar 117, 3 juta antaralain pengguna layanan data yang dibantu 228. 411 BTS dimana 100. 190 diantaranya BTS 4G. Average Revenue Per User (ARPU) di menutup kuartal tiga 2020 berhasil dipelihara di kisaran Rp45 ribu.