Bonus harian di Keluaran HK 2020 – 2021.

Jakarta, Selular. ID – Jumlah kejahatan siber dengan terjadi diseluruh dunia semenjak tahun 2020 terus meningkat. Oleh sebab itu menjawab atas keamanan siber tidak hanya penting bagi perusahaan-perusahaan besar berskala nasional dan global, namun juga penting bagi UMKM.

Statistik yang dirilis Fundera (2020) menunjukkan bahwa pada tahun 2020, 43% lantaran total serangan siber dengan terjadi ditujukan pada daya kecil, dan kesalahan manusia merupakan salah satu ciri terbesar yang mempengaruhi keamanan siber sebuah perusahaan.

Baca juga:   Waspada Cryptomining, Serangan Siber yang Membuat Perangkat Lemot!  

& menurut statistik yang dirilis oleh Cybint (2020) zaman ini sebesar 77% perusahaan tidak memiliki rencana mitigasi terhadap serangan siber.

Marshall Pribadi, Pengantara Ketua Umum AFTECH, menjelaskan kurangnya pemahaman akan keamanan siber juga dianggap jadi penyebab utama mengapa masih banyak pelaku usaha, termasuk UMKM, sangat rentan terhadap kejahatan di jagat tanwujud.

“Ketika tidak terjadi gangguan siber, para pelaku usaha seharusnya tidak juga boleh lengah serta menganggap bahwa standar keamanannya sudah cukup. Para karakter usaha tetap harus memperhatikan potensi serangan siber & melakukan langkah-langkah yang langsung agar usahanya dapat berjalan dengan aman, khususnya zaman bertransaksi secara online, ” kata Marshall.

Baca juga:   Masukan: Serangan Siber Pada Daerah Industri Kian Meningkat

Sehingga endukasi melanda keamanan siber, sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran dan budaya keamanan siber menjelma penting yang dapat dilakukan oleh berbagai pihak serupa perusahaan, asosiasi, dan pemerintah secara sinergis dalam lembaga mencegah kerugian yang bertambah besar lagi.

Dari segi regulasi, Retno Artinah selaku direktur Perlindungan Ekonomi Digital Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang hadir sebagai pensyarah menyatakan bahwa, masalah kebahagiaan informasi bagi pelaku UMKM dianggap permasalahan yang mutakhir, hal ini tidak hanya di Indonesia, namun selalu di terjadi di kaum negara.

“Salah satu tantangan digitalisasi UMKM di Indonesia adalah rendahnya tingkat literasi digital. Rendahnya literasi menjadi faktor istimewa yang menyebabkan rentannya UMKM terhadap serangan siber, ” kata Retno.

Baca juga:   Masukan NTT: Serangan Siber Global Naik 300%

Hal ini menjadi penting, pasalnya pandemi Covid-19 yang melanda dunia selama lebih dari setahun terakhir telah mengubah pola interaksi klub serta cara bisnis berfungsi.

Data Kementerian Koperasi dan UKM MENODAI (2020) menunjukkan bahwa semasa tahun 2020, terdapat sekitar 10, 2 juta UMKM yang menggunakan teknologi digital dalam kegiatan usahanya.

Angka ini menyusun kurang lebih 13% bila dipadankan dengan tahun sebelumnya. Meskipun di satu sisi penggunaan teknologi digital memungkinkan pelaku UMKM tetap terhubung dengan konsumen dan dapat menjangkau konsumen baru serta meningkatkan pendapatan, adaptasi digital serupa memiliki risiko, diantaranya efek siber seperti penipuan online, peretasan, pemalsuan identitas, serta bocornya data konsumen. Kebusukan siber dapat mengakibatkan kecelakaan material maupun nonmaterial bagi pelaku usaha UMKM.