Bonus harian di Keluaran SDY 2020 – 2021.

Jakarta, Selular. ID – Covid-19 merupakan kritis terparah yang melanda industri jasa makanan selama setengah abad terakhir. Pada tarikh 2020, pasar layanan makanan di Asia menyusut sebesar 25 hingga 30 obat jerih menjadi sekitar 952 miliar dolar AS.

Indonesia, seperti halnya India dan Filipina, terkena hasil parah dengan penurunan sebanyak 35 hingga 45 komisi. Namun, menurut laporan Kearney bertajuk Food for thought: evolution of food services post Covid-19 in Asia, pelaku industri yang justru berkembang pesat di tengah penurunan pasar adalah mereka yang dengan cepat beradaptasi dengan model bisnis berbasis teknologi yang inovatif.

Baca juga:   GoFood Catat Pendapatan 20 Kali Lipat

“Ketika dampak ekonomi dari Covid-19 dan preferensi konsumen terus berkembang, perusahaan bantuan makanan harus segera melakukan pengaturan dan investasi ulang yang signifikan pada usaha, ” ujar Siddharth Pathak, Partner di Kearney.

Dengan pengaturan kembali, biaya bisnis dapat dialokasikan sebanyak 30 persen ke dalam model operasi segar, seperti cloud-kitchen, restoran dengan baru, atau restrukturisasi. Pengoptimalan biaya ini dapat menghemat lebih dari 10 komisi, didorong oleh penyesuaian pekerja, biaya sewa, dan sumber bahan dapur. Penghematan ini juga dapat dimanfaatkan berperan mendanai digitalisasi dan strategi komunikasi untuk membentuk keyakinan konsumen dan persepsi brand yang positif.

Sementara industri ini secara keseluruhan menurun, transmisi makanan online di Asia meningkat sebanyak 30 persen pada tahun 2020. Tarikh sebelumnya bahkan tidak menyentuh 20 persen.

Baca juga:   Pandemi Tak Membuat Bisnis E-Commerce Layu

Tengah itu aggregator atau penyedia solusi makanan mengalami kemajuan lebih dari 30 komisi. 65 persen dari transmisi makanan online berasal penyelesaian tersebut.

Posisi aggregator dalam bagi industri jasa makanan di sini adalah untuk menghimpun keterangan serta informasi dalam memperlancar pemesanan, pelacakan pembayaran, pengiriman, serta pengalaman konsumen.

Kemudian yang pula menjadi perhatian, cloud-kitchen serupa semakin populer dan telah diterapkan oleh sebagian luhur restoran cepat saji buat mendorong pertumbuhan.

“Restoran berantai perlu beringsut ke model hybrid network atau jaringan hibrida dengan menggabungkan toko fisik yang lebih kecil, cloud-kitchen dan outlet khusus untuk takeaway. Kehadiran restoran flagship akan tetap relevan untuk membentuk kehadiran brand, tetapi ukuran akan lebih kecil 15 persen karena berkurangnya konsumen yang makan di tempat. 30 persen portofolio kongsi juga akan dialokasikan buat cloud-kitchen, ” Shirley Santoso, Partner di Kearney.

Baca juga:   Transaksi Makanan Sehat pada Tokopedia Meningkat 3 Kali Lipat

Untuk bisnis layanan makanan sendiri yang lebih kecil, laporan Kearney menunjukkan bahwa itu mungkin perlu menutup toko fisik mereka, kemudian beringsut sepenuhnya ke cloud-kitchen. Itu juga akan bergantung di agregator. Sekitar 15 tip hingga 20 persen pesanan akan dipimpin oleh agregator. Industri jasa makanan mau menjadi lebih terkonsolidasi karena agregator makanan mengambil periode besar dari pasar layanan makanan.

“Para agregator akan terus tumbuh pesat dan mendominasi ekosistem layanan makanan. Agregator telah berhasil membangun loyalitas konsumen, contohnya dengan memberi fasilitas dalam pemesanan, pelacakan pembayaran, dan pengiriman. Agregator pula terus meningkatkan pengalaman konsumen dengan memberikan platform buat ulasan restoran serta rencana langganan atau loyalitas, ” ujar Siddharth.

“Dalam ranah business-to-business (B2B), agregator akan mengakuisisi perusahaan yang dapat meluluskan nilai tambah. Para agregator akan membangun jaringan cloud-kitchen mereka sendiri seperti yang sudah dilakukan di Thailand, Singapura, Filipina, dan Nusantara. Mereka juga akan menjadi one stop shop untuk perusahaan layanan makanan, dengan menyediakan bahan baku, logistik masak, ruang cloud kitchen, pinjaman modal, alat penyelidikan, serta sistem point of sale, ” tambah Siddharth.

Kemudian berdasarkan  survei online Kearney terhadap lebih dari 900 cabang konsumen Indonesia terungkap kalau 34 persen konsumen sudah beralih untuk memesan makanan via delivery atau takeout.

Namun, 50 persen masih lebih memastikan makan di restoran. 24 persen telah beralih sejak warung makan dan jajanan pinggir jalan ke restoran modern atas faktor prioritas kesehatan dan keselamatan dibandingkan rasa dan harga.

Baca juga:   Cegah Corona, Grab Tingkatkan Standar Kebersihan Makanan

“Karena transparansi di penanganan makanan menjadi menghiraukan utama konsumen, digitalisasi pada hampir setiap aspek gaya operasi diperlukan. Digitalisasi pada industri akan berkembang dalam dua bidang, digitalisasi pada pelayanan pelanggan dan mekanisasi operasi restoran. Kontak bani adam di kedua area tersebut akan diminimalisir dan diganti dengan aplikasi digital, robotika, serta otomatisasi, ” tandasnya.

Digitalisasi pada pelayanan pelanggan termasuk memakai menu online dan permintaan pembayaran contactless. Dalam peristiwa mekanisasi operasi, layanan sasaran akan dijadikan otomatis secara sensor dan robot Internet of Things (IoT). Pelayanan pelanggan dalam restoran akan dikelola dengan platform digital.